Pengalaman Ramadhan di Luar Negeri

Masjid didsbury di Manchester

Bulan suci ramadhan banyak menyajikan kisah yang menarik dari saudara seiman yang sedang berada di negeri orang bila ramadhan mereka selalu merindukan tanah air karena di indonesia nuansa bulan suci ramadhan sangat kental.Banyak mushola untuk sholat tareweh, tadaruz al-qur’an, bedug adzan ada yang membangunkan saat tiba waktu sahur dan itu semua mereka tak dapatkan itu di luar negeri.Puasa di luar negeri juga sangat berat cobaannya karena waktu siang yang lebih lama.Ini beberapa kisah dari saudara kita yang melaksanakan  ramadhan di luar negeri yang saya kutip dari berbagai sumber

Ramadhan di America

Bagi Mohammad Malik Amrullah Basri, Ramadhan tahun ini merupakan Ramadhan pertamanya di Amerika. “Alhamdulillah bisa menjalankan puasa di Amerika. Sayangnya tidak bisa merasakan suasana bulan Ramadhan seperti di Tanah Air,” kata Malik.
Pria yang baru tinggal di Amerika selama tiga bulan itu mengatakan berpuasa di Amerika penuh dengan tantangan. Apalagi Ramadhan kali ini jatuh pada musim panas, sehingga puasa terasa lebih berat. Seperti yang dirasakan oleh seorang pendatang baru lainnya, Nurina Savitri.

“Rasanya panjang dan lama. 15 jam. Apalagi di Washington D.C cuacanya sangat gerah. Jadi lebih enak kalau puasa panjang dan musim panas seperti ini kita sibuk di kantor saja, karena kalau di luar lembab dan cepat haus,” ujar Nurina.

Selain suhu tinggi yang terkadang mencapai 40 derajat Celcius, tantangan lain yang mereka rasakan adalah suasana yang kurang mendukung. Tidak seperti Indonesia yang lebih dari 88 persen penduduknya adalah Muslim, di Amerika jumlahnya kurang dari satu persen. Malik mengatakan suasana tradisional yang biasa dijumpai di Indonesia tidak terlihat di Amerika.

Karena Muslim di Amerika minoritas, banyak orang yang makan minum di sekitar kita. Tidak ada suara adzan, tidak ada orang yang memukul kentungan seperti di Indonesia, tidak ada acara-acara TV yang bernuansa Islami,” jelas Malik.

Nurina, yang baru tinggal di Amerika selama empat bulan, merindukan tajil atau hidangan khas saat buka puasa yang banyak disajikan di Indonesia. “Yang paling dikangenin kolak pisang dan suasana buka puasa bersama teman-teman kantor, keluarga… Kangen kumpul-kumpul.”

Meskipun banyak tantangan, hal itu tidak mengganggu aktivitas mereka sehari-hari. Ia mengatakan dirinya tetap menjalankan pekerjaan sebagai jurnalis yang mengharuskannya melakukan berbagai peliputan.“Yang penting niat kalau puasa. Mau itu 20 jam, atau suhu tinggi, kalau memang sudah niat, Insya Allah lancar,” kata Nurina menambahkan.

Malik, yang sehari-hari menjadi pelatih badminton mengatakan, aktivitasnya justru semakin bertambah. Selama bulan suci Ramadhan, ia terlibat dalam beberapa kegiatan yang diselenggarakan oleh Kedutaan Besar Republik Indonesia di Washington D.C. Selain untuk beribadah, kata Malik, bulan Ramadhan adalah momen yang tepat untuk menjalin tali silaturahmi.(republika.co.id)

Ramadhan di Inggris

Kaum Muslimin di Inggris dan juga masyarakat Indonesia yang beragama Islam di Kerajaan Inggris tahun kemarin menjalani ibadah puasa di bulan Ramadhan lebih lama ketimbang di Tanah Air karena bertepatan dengan musim panas.

“Waktu berbuka puasa pada musim panas hampir mendekati pukul sembilan malam,” kata seorang warga muslim di Inggris, Rahma dalam milis Kibar, Keluarga Islam Britania Raya.

Namun Rahma pernah mendengar kalau ada semacam fatwa menyebutkan ada keringanan bagi muslim yang tinggal dan berpuasa di daerah yang siangnya jauh lebih lama dibandingkan malamnya seperti musim panas di Inggris saat ini.

Dalam beberapa hari ini dibahas mengenai puasa di musim panas yang dijalani umat muslim yang ada di Inggris dan mendapat tanggapan dari berbagai anggota milis yang menjadi perdebatan menarik.

Menjalani ibadah puasa di negeri empat musim memang berbeda dengan di tanah air yang waktunya sudah pasti dan perbedaannya tidak terlalu drastis, seperti pada saat bulan Ramadhan yang jatuh di musim panas yang siangnya lebih lama ketimbang malamnya.
“Saya pernah menjalani ibadah puasa pertama saya di negeri Ratu Elizabeth di tahun 1986, yang merupakan puasa yang paling panjang seumur hidup saya karena di tahun tersebut bulan Ramadhan jatuh pada bulan Juli saat musim panas,” ujar Naniek Sobirin yang akrab disapa Mbak Nanik.

Dikatakannya, dirinya masih teringat saat hari pertama harus sahur pukul dua pagi, makan seadanya maklum jauh dari orang tua. Menunggu waktu subuh hanya beberapa menit terasa sangat lama karena bergelut dengan rasa kantuk yang sangat menyiksa.

Perasaan haus dan lapar tidak dirasakan karena udara yang meskipun panas tapi tidaklah panas menyengat seperti di Indonesia. “Saya ingat saat itu meskipun musim panas tapi saya harus menggunakan jaket karena merasa kedinginan,” ujarnya.

Menurut Mbak Nanik waktu berbuka pada saat itu sekitar pukul 9.25 dengan menu berbuka seadanya karena mata sudah mengantuk, shalat maghrib dan menunggu waktu Isya merupakan ujian yang sangat berat belum lagi shalat tarawih.

“Benar-benar godaan antara ibadah dan tempat tidur, akibatnya saya tidak menjalankan tarawih penuh dan ia juga bersyukur sebagai wanita ada waktunya tidak berpuasa,” ujar istri dari Sobirin ini.

Diakuinya meskipun puasa yang dijalani cukup panjang namun Mbak Nanik dapat menjalaninya dengan baik, meskipun banyak juga yang tidak berpuasa atau malah berpuasa sahurnya ikut waktu Inggris tapi waktu bukanya ikut waktu Mekkah.

“Saya tidak tahu fatwa mana saat itu tapi saya menjalankan menurut hitungan sebelum matahari terbit dan setelah matahari terbenam,” ujarnya.

Menurut Nanik makan sahur pun merasa malas karena mengantuk dan masih kenyang, kadang hanya minum ataupun makan roti, tapi ini berakibat buruk karena pada pukul empat sore perut sudah “bernyanyi”, dan badan sudah kedinginan.

Untuk itu, mbak Nanik menganjurkan jika akan menjalankan puasa di musim panas pada waktu berbuka makan secukupnya tapi pada saat sahur makan kenyang dan kalau bisa siang lebih baik gunakan untuk tidur, karena malam hari benar-benar untuk ibadah.

“Apalagi pada tahun 2012 dan 2015 diperkirakan umat Muslim di Inggris menjalani ibadah puasa yang terpanjang. Dapat dibayangkan masyarakat muslim yang tinggal di Glasgow ditambah 22 menit dari hitungan waktu berbuka puasa di London,” ujarnya.

(atikofianti.wordpress.com)

About these ads

Perihal KUAT
saya kuat abu menjadikan setiap pengalaman adalah pelajaran yang berharga untuk menjadi lebih baik

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: