Apakah Jin Mati,,,?

illustrasi

illustrasi

Seorang teman suatu kali mengajukan pertanyaan kepada saya apakah jin itu bisa mati layaknya seorang manusia,,,? untuk mencoba pertanyaan tersebut ku coba mencarinya karena ku tak ingin jawaban yang terlontar itu bukan sebuah kebenaran

Seperti di kutip dari islampos.com bahwa beberapa riwayat menunjukkan bahwa jin itu seperti manusia, yaitu bisa meninggal juga. Perlu kita garis bawahi bahwa jin itu berbeda dengan iblis yang secara khusus telah diberikan ajal sampai kiamat tiba.

jin adalah jenis makhluk halus. Seperti halnya manusia, jin hidup berkelompok-kelompok, bersuku-sku dan berbangsa-bangsa. Mereka terdiri dari laki-laki dan perempuan. Mereka saling menikah, beranak, tumbuh dewasa hingga besar dan mereka pun masing-masing mengalami kematian. Meski ukuran usianya sedikit berbeda dengan ukuran usia umumnya manusia biasa.

Dikeluarkan oleh Ibnu Jarir dari Wahb bin Munabbih bahwa ia ditanya tentang jin, Apakah jin itu makan, minum, mati dan menikah? Dijawab, “Mereka bermacam-macam. ada yang tidak makan, minum, mati dan beranak, mereka adalah jin asli. Ada lagi jenis yang bisa makan, minum, mati dan menikah.” (Wiqoyatul Insan Minal Jinni Wasy-Syaithan, Syeikh Abds Salam Bali).

Dan kesimpulan yang pasti tentang matinya jin tentunya adalah firman Allah SWT: “Semua yang ada di atas bumi akan binasa. Dan kekal wajah Rabmu Dzat pemilik keagungan dan kemuliaan karena itu. Nikmat Tuhan yang mana lagi yang kalian dustakan.” (QS. Ar-Rahman: 26 – 28). []

Iklan

Televisi Islami di Indonesia

Logo Rodja tv

Logo Rodja tv

Penduduk indonesia mayoritas beragama islam namun sampai sekarang tak ada station tv nasional yang islami,sungguh sangat ironis.Beda dengan di negara lain,baru baru ini di rusia di luncurkan tv islami siaran nasional padahal penduduk yang beragama islam cuma beberapa persen saja.

Kajian  tentang islam sangat di perlukan untuk menambah wawasan pengetahuan keislaman seseorang dan menambahkan ketaqwaan.Jika ingin mendapat dari media televisi nasional saat ini porsinya sangat sedikit padahal mayoritas penduduk indonesia mengandalkan televisi sebagai media hiburan dan informasi.

Menurutku da’i yang mengisi ceramah di tv nasional saat ini lebih banyak yang sifatnya menghibur semata sehingga apa yang di dapatkan penonton hanya hiburan,tujuan utama mendapatkan ilmu agama kurang mengena di benak para pemirsa televisi.Da’i di tv saat ini kebanyakan di pilih hanya di lihat penampilan fisik yang sedap di pandang mata bersifat lucu dan yang terjadi saat ini seorang da’i tak ubahnya seperti selebriti di mintai foto bareng tanda tangan dan menjadi bintang iklan.Jika ini terjadi hilanglah nilai seorang da’i yang tujuan utamanya sebagai pewaris para nabi menyebarkan ilmu agama.

Logo Insan tv

Logo Insan tv

Solusi dari semua ini adalah menyaksikan siaran tv islami lokal namun bisa di saksikan dari seluruh penjuru indonesia melalui parabola.Di antaranya adalah rodja tv,insan tv dan yang terbaru wesal tv.Ketiga station ini menyiarkan kajian islam dan murotal al-qur’an  selama 24jam tanpa iklan comersial,di pancarkan melalui satelit palapa D yang bisa menjangkau seluruh nusantara dari kota hingga pelosok desa dan bersifat  gratis.

Kajian dari islam dari rodja tv,insan tv dan wesal tv menghadirkan para da’i  yang mempunyai keilmuan islam secara mendelam bukan sekedar lucu lucuan semata juga bukan sekedar sedap di pandang mata. Isi Ceramah dari ketiga televisi tersebut sangat mengena dan sesuai dengan tujuan utama memberikan ilmu keislaman kepada para pemirsanya.

Rodja tv dan insan tv juga bisa di saksikan melalui siaran live streaming  www.rodja.tv dan www.insantv.com.Jadi kita masih bisa menyaksikan kapan pun dan di mana pun

Gelar Haji Perlu Atau Tidak,,?

Ketika orang telah melaksanakan ibadah haji di tanah suci maka orang tersebut telah menjadi seorang haji.Dan tak jarang nama haji di tambahkan nama seseorang di depanya seperti gelar gelar yang di peroleh melalui akademik.Orang di sekitarnya pun akan memanggil pak haji atau bu haji.Sebenarnya perlu tidak gelar haji itu berikut penjelasanya lengkapnya dari voa-islam.com

Sebagian orang merasakan begitu beratnya berlaku ikhlas dalam ibadah haji. Sebab, tidak seperti ibadah-ibadah lainnya, jika seseorang telah melaksanakan haji, ia mesti akan mendapat gelar baru yang tertera di depan namanya (Bapak Haji). Karena ibadah haji dianggap sebagai suatu yang sangat istimewa di mata masyarakat umum, maka mereka berusaha mengagungkannya dan mengukur tingkat kemuliaan seseorang dengan gelar itu. Karenanya, bagi seseorang yang melaksanakan haji, jika tidak berhati-hati dengan niatnya, ia bisa terjerumus ke dalam riya dan kehilangan semua pahala hajinya. Yang menjadi pertanyaan, perlukah gelar haji itu bagi seorang muslim yang telah melaksanakannya?

Mestinya, selain gelar bapak haji atau ibu hajah, ada juga gelar bapak/ibu salat, zakat, puasa, atau syahadat. Jadi, jika seseorang telah melaksanakan kelima rukun Islam, di depan namanya akan tertera lima gelar itu. Jika tidak dipakai, sebaiknya dihapus semua. Karena, ketinggian nilai ibadah di sisi Allah itu dilihat dari ketulusan hati seseorang dalam melakukan hal itu, juga implikasi sosialnya, bukan dilihat dari jenisnya secara fisik.

Maka, wajar jika seorang guru besar Al-Azhar Kairo, Dr. Sayyid Razak Thawil, pernah menolak dengan tegas pemakaian gelar haji bagi orang yang telah melaksanakan ibadah tersebut. Alasannya, gelar itu tidak didapat pada zaman Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, sahabat, bahkan tabi’in. Ia juga menjelaskan bahwa ibadah seseorang bergantung pada keikhlasannya.

Pernyataan di atas patut untuk disimak karena selain alasan yang dikemukakan sangat tepat juga kritiknya mengenai sasaran. Sebenarnya, alasan faktual itu bisa dikembangkan lebih panjang jika disesuaikan dengan kondisi umat Islam di negara-negara berkembang, tanpa terkecuali Indonesia, yang bahkan memiliki lembaga eksklusif yang mewadahi orang-orang yang bergelar haji, yaitu Baca pos ini lebih lanjut

Berdakwah Ala Pengamen Jalanan

Ilustrasi

Berdakwah bukan hanya bisa di lakukan oleh ulama,kiyai atau ustadz tapi kita semua bisa melakukanya sesuai dengan ilmu agama yang kita tahu.Sekecil apa pun itu akan sangat bermanfaat agar nilai nilai islam bisa di sampaikan ke orang lain.

Pengamen jalanan pun bisa berdakwah menyampaikan nilai nilai islam dengan cara mereka yaitu mengamen membawakan lagu bernuansa religi meskipun niat mereka mencari uang tapi terselip di dalamnya satu kebaikan yaitu mengajak orang ingat kepada sang maha pencipta ALLAH SWT.Saat saya di dalam bus menjumpai dua orang pengamen membawakan lagu lir ilir dengan gubahan lirik yang mereka tambahakan tanpa mengurangi makna dari lagu aslinya.Dengan bermodal gitar dua orang pengamen yang saja jumpai menyanyikan lagu lir ilir dengan penjiwaan yang mendalam.Saya salut dengan pengamen tersebut karena telah menyampaikan nilai nilai islam dengan cara mereka.

Kita semua bisa berdakwah menyampaikan ilmu agama yang kita ketahui sekecil apa pun itu sebab akan berguna bagi semua,ilmu yang  bermanfaat adalah ilmu yang di sampaikan ke orang lain.Apalah arti mempunyai banyak ilmu tapi hanya di simpan saja itu akan percuma saja,kalau harta di berikan akan berkurang tapi jika ilmu yang di berikan maka akan bertambah.

Tertarik kan ilmu anda tiap hari bertambah,,? mari dari sekarang sampaikan ilmu yang kita punya kepada dunia.

Manfaat Puasa Sunah Setelah 1 Syawal

Setelah hari raya idul fitri 1 syawal umat islam di sunahkan melakukan puasa sunah selama enam hari sebenarnya apakah manfaat puasa sunah setelah lebaran bagi kesehatan berikut penjelasanya dari detik.com

Selama bulan Ramadan, sistem pencernaan dikondisikan untuk bekerja lebih lambat dari biasanya karena ada perubahan pola makan. Selain tidak ada makan siang, jenis makanan yang dikonsumsi malam harinya cenderung lembut agar perut tidak bermasalah.

Begitu masuk hari raya, pola makan kembali normal karena puasa wajib sudah selesai. Agar perut tidak mengalami shock atau kekagetan, maka sistem pencernaan membutuhkan masa transisi yang biasanya memakan waktu antara 3 hari hingga 1 minggu.

“Sampai hari ketiga setelah lebaran, sebaiknya pilih makanan yang lembut-lembut. Tubuh perlu adaptasi di masa peralihan,” kata Prof Dr Hardinsyah, ahli gizi dari Fakultas Ekologi Manusia Institut Pertanian Bogor (IPB) saat dihubungidetikHealth, seperti ditulis Senin (20/8/2012).

Selain harus memilih makanan dengan tekstur lembut, jumlah atau porsinya juga harus dibatasi. Karena selama puasa tidak makan siang, maka sebaiknya sarapannya cukup setengah dari porsi biasa dan setengahnya lagi dipenuhi saat makan siang atau dengan cemilan.

Akan lebih baik lagi menurut Prof Hardinysah, jika umat Islam menjalankan puasa sunah selama 6 hari setelah lebaran hari pertama. Ritual yang sering disebut puasa syawal ini memang tidak wajib, namun ada hikmah yang bisa diambil dari sisi kesehatan jika dilakukan.

“Masa transisi memang sebaiknya satu minggu. Karena itu puasa syawal selama 6 hari itu sangat bermanfaat untuk mengendalikan masa transisi. Pahala itu sudah Yang di Atas yang meghitung, tapi memang ada hikmah dari balik itu semua kalau dilihat dari sisi kesehatan,” pesan Prof Hardinsyah.
(detik.com)

Tarawih,Yang Terpenting Bukan Pada Perbedaan Rakaat

Oleh: Dr Muhammad Hariyadi, MA

Tarawih merupakan shalat malam (qiyamul lail) di bulan Ramadhan. Tarawih berasal dari kata raahahyang berarti bersantai setelah empat rakaat.

Artinya shalat ini dapat dikerjakan tidak sekaligus dalam satu rangkaian, namun dapat disela-sela dengan kegiatan lain di luar shalat setelah menyelesaikan empat rakaat, empat rakaat.

Rasulullah SAW tercatat tiga kali melakukan shalat tarawih di masjid yang diikuti oleh para sahabat pada waktu lewat tengah malam. Khawatir shalat tarawih diwajibkan karena makin banyaknya sahabat yang turut berjamaah, pada malam ketiga Rasulullah SAW lalu menarik diri dari shalat tarawih berjamaah dan melakukannya sendiri di rumah.

Pada saat selesai shalat Subuh beberapa hari kemudian beliau menyampaikan konfirmasi, “Sesungguhnya aku tidak khawatir atas yang kalian lakukan pada malam-malam lalu, aku hanya takut jika kegiatan itu (tarawih) diwajibkan yang menyebabkan kalian tidak mampu melakukannya.” (HR. Bukhari).

Pada masa kekhalifahannya, Umar bin Khathab memerintahkan shalat tarawih berjamaah dengan imam Ubay bin Ka’ab sebanyak dua puluh tiga rakaat dan bacaan sekitar 200 ayat, setelah sekian lama para sahabat shalat sendiri-sendiri.

Kegiatan tersebut didasari oleh kemaslahatan bersama akan persatuan dan kesatuan kaum Muslim. Menyaksikan indahnya tarawih berjamaah lewat tengah malam, Umar bin Khathab berkata, “Ini adalah bid’ah yang paling nikmat.”

Pada masa khalifah Umar bin Abdul Aziz, kegiatan shalat tarawih ditambah hingga 33 rakaat dengan alasan perbedaan kualitas ibadah kita dengan Rasulullah SAW. Namun, jumlah rakaat tarawih yang terakhir ini hanya masyhur pada zaman itu dan tidak popular hingga zaman kita saat ini.

Perbedaan jumlah rakaat tarawih disebabkan oleh tidak adanya batasan jumlah rakaat saat Rasulullah SAW melakukannya dalam tiga malam itu. Imam As-Syuyuthi menukil pernyataan Imam Al Taj As-Subhi berkata, “Tidak adanya batasan rakaat karena tarawih adalah shalat sunah. Yang mau sedikit (rakaatnya) silakan, yang mau banyak juga dipersilahkan.”

Di banyak negara, kita menjumpai kaum Muslimin melaksanakan shalat tarawih dengan delapan atau dua puluh rakaat. Di banyak masjid Maroko, shalat tarawih dua puluh rakaat dipecah menjadi dua bagian, yaitu Baca pos ini lebih lanjut

Petuah Imam Ghazali

al-ghazali

Suatu hari, Imam Al-Ghazali berkumpul dengan murid-muridnya lalu beliau
bertanya :

Soalan pertama
Imam Ghazali : Apakah yang paling dekat dengan diri kita di dunia ini?
Murid 1 : Orang tua
Murid 2 : Guru
Murid 3 : Teman
Murid 4 : Kaum kerabat

Imam Ghazali : Semua jawaban itu benar. Tetapi yang paling dekat dengan
kita
ialah MATI. Sebab itu janji Allah bahawa setiap yang bernyawa pasti akan
mati ( Surah Ali-Imran:185) .

Soalan kedua
Imam Ghazali : Apa yang paling jauh dari kita di dunia ini ?
Murid 1 : Negeri Cina
Murid 2 : Bulan
Murid 3 : Matahari
Murid 4 : Bintang-bintang

Iman Ghazali : Semua jawaban itu benar. Tetapi yang paling benar adalah
MASA LALU. Bagaimanapun kita, apapun kenderaan kita, teta! p kita tidak
akan dapat kembali ke masa yang lalu. Oleh sebab itu kita harus menjaga
hari ini, hari esok dan hari-hari yang akan datang dengan perbuatan yang
sesuai dengan ajaran Agama.

Soalan ketiga
Iman Ghazali : Apa yang paling besar didunia ini ?

Murid 1 : Gunung
Murid 2 : Matahari
Murid 3 : Bumi

Imam Ghazali : Semua jawaban itu benar, tapi yang besar sekali adalah HAWA
NAFSU (Surah Al A’raf: 179). Maka kita harus hati-hati dengan nafsu kita,
jangan sampai nafsu kita membawa ke neraka .

“Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk neraka jahanam banyak dari jin dan
manusia yang mempunyai hati (tetapi) tidak mahu memahami dengannya
(ayat-ayat Allah), dan yang mempunyai mata (tetapi) tidak mahu melihat
dengannya (bukti keesaan Allah) dan yang mempunyai telinga (tetapi)
tidak mahu mendengar dengannya (ajaran dan nasihat); mereka itu
seperti binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi; mereka itulah
orang-orang yang lalai. ”
(Surah Al-A’raaf, Ayat 179)

Soalan keempat
Imam Ghazali : Apa yang paling berat didunia ?

Murid 1 : Baja
Murid 2 : Besi
Murid 3 : Gajah

Imam Ghazali : Semua itu benar, tapi yang paling berat adalah
MEMEGANG AMANAH (Surah Al-Azab : 72 ). Tumbuh-tumbuhan, binatang, gunung,
dan malaikat semua tidak mampu ketika Allah SWT meminta mereka menjadi
khalifah(pemimpin) di duni! a ini. Tetapi manusia dengan sombongnya
berebut-rebut menyanggupi permintaan Allah SWT sehingga banyak manusia
masuk ke neraka kerana gagal memegang amanah.’

Soalan kelima
Imam Ghazali : Apa yang paling ringan di dunia ini ?

Murid 1 : Kapas
Murid 2 : Angin
Murid 3 : Debu
Murid 4 : Daun-daun

Imam Ghazali : Semua jawaban kamu itu benar, tapi yang paling ringan sekali
didunia ini adalah MENINGGALKAN SOLAT. Gara-gara pekerjaan kita atau urusan
dunia, kita tinggalkan solat. Na’uzubillahiminzaa lik.

Soalan keenam
Imam Ghazali : Apa yang paling tajam sekali didunia ini ?

Murid- Murid dengan serentak menjawab : Pedang

Imam Ghazali : Itu benar, tapi yang paling tajam sekali didunia ini adalah
LIDAH MANUSIA . Kerana melalui lidah, manusia dengan mudahnya menyakiti
hati dan melukai perasaan saudaranya sendiri.

Republika.co.id

Ramadhan di Kutub Utara

muslim manitoba di kutub utara

Keadaan bumi di belahan kutub memang sangat fenomenal. ada banyak dari kita di Indonesia yang tidak mengetahui fenomena ini. Di kutub tidak mengenal kepastian siang dan malam dalam sehari. matahari datang dan pergi tidak seperti yang kita alami di Indonesia. Malam dikutub bisa terjadi selama 6 bulan secara terus menerus, begitu pula sebaliknya dengan siang.

Bahkan di kutub pernah terjadi kejadian langka yang belum pernah terjadi selama ini di kutub utara. Munculnya matahari berada dibawah bulan demikian dekatnya. Sebuah momen yang mungkin tidak akan bisa disaksikan oleh seluruh manusia di bumi ini. Tampak sekali bulan begitu besar menanungi matahari yang muncul dengan lemah di sisi bawahnya.

Ramadhan akan identik dengan Puasa. Menahan nafsu makan seharian penuh (Indonesia sekitar 13 jam). Sebagai umat yang taat tentunya semua muslim di dunia akan menyambut bulan ini dengan suka cita. Suasana religius tampak hampir di seluruh komunitas islam.

Pertanyaannya?

  1. Bagaimanakah warga negara yang masuk dalam zona kutub melakukan puasa ramadhannya?
  2. Apakah mereka akan berpuasa seharian karena matahari tidak terbenam?
  3. atau mereka tidak harus berpuasa karena matahari tidak terbit-terbit?

Merujuk pada fatwa Majlis Fatwa Al-Azhar Al-Syarif, menentukan waktu berpuasa Ramadhan pada daerah-daerah yang tidak teratur masa siang dan malamnya, dilakukan dengan cara menyesuaikan/menyamakan waktunya dengan daerah dimana batas waktu siang dan malam setiap tahunnya tidak jauh berbeda (teratur). Sebagai contoh jika menyamakan dengan masyarakat mekkah yang berpuasa dari fajar sampai maghrib selama tiga belas jam perhari, maka mereka juga harus berpuasa selama itu.

Adapun untuk daerah yang samasekali tidak diketahui waktu fajar dan maghribnya, seperti daerah kutub (utara dan selatan), karena pergantian malam dan siang terjadi enam bulan sekali, maka waktu sahur dan berbuka juga menyesuaikan dengan daerah lain seperti diatas. Jika di Mekkah terbit fajar pada jam 04.30 dan maghrib pada jam 18.00, maka mereka juga harus memperhatikan waktu itu dalam memulai puasa atau ibadah wajib lainnya.

Fatwa ini didasarkan pada Hadis Nabi SAW menanggapi pertanyaan Sahabat tentang kewajiban shalat di daerah yang satu harinya menyamai seminggu atau sebulan atau bahkan setahun. “Wahai Rasul, bagaimana dengan daerah yang satu harinya (sehari-semalam) sama dengan satu tahun, apakah cukup dengan sekali shalat saja”. Rasul menjawab “tidak… tapi perkirakanlah sebagaimana kadarnya (pada hari-hari biasa)”. [HR. Muslim] Dan demikianlah halnya kewajban -kewajiaban yang lain seperti Baca pos ini lebih lanjut

%d blogger menyukai ini: